Senin, 01 Maret 2010

PENELITIAN SEBAGAI PROSES ILMIAH

A. Dua Pilar Ilmu Pengetahuan
Penelitian adalah suatu penyelidikan atau suatu usaha pengujian yang dilakukan secara teliti, dan kritis dalam mencari fakta-fakta atau prinsip-prinsip dengan menggunakan langkah-langkah tertentu. Dalam mencari fakta-fakta ini diperlukan usaha yang sistematis untuk menemukan jawaban ilmiah terhadap suatu masalah. Dari kata mencari fakta-fakta dan menggunakan langkah-langkah tertentu inilah kita dapat mengetahui dengan jelas bahwa untuk melakukan sebuah penelitian harus melalui proses ilmiah. Karena dalam penelitian nanti kita akan menemukan masalah yang harus ditemukan jawaban kebenarannya dengan menggunakan metode ilmiah dan dilakukan dengan proses ilmiah pula. Masalah akan muncul apabila kita mempunyai keraguan tentang sesuatu dalam ilmu pengetahuan, keraguan itu merupakan sebuah masalah. Masalah tersebut dapat dikembangkan, serta di uji ilmu pengetahuannya berdasarkan atas prinsip-prinsip, teori-teori yang disusun secara sistematis melalui proses yang intensif dalam pengembangan generalisasi, dalam prosesnya pun menggunakan metode ilmiah yang lebih mementingkan aplikasi berpikir deduktif-induktif di dalam memecahkan suatu masalah
Untuk memecahkan suatu masalah dalam penelitian ilmiah harus menggunakan ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan ini merupakan bagian yang sangat penting dalam menemukan jawabannya, begitu juga selama proses penelitiannya. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa ilmu pengetahuan merupakan tanda seluruh kesatuan ide yang mengacu ke obyek (atau alam obyek) yang sama dan saling keterkaitan secara logis. Ilmu pengetahuan ini sangat penting, karena apabila tidak ada ilmu pengetahuan maka manusia tidak dapat menemukan suatu jawaban dari sebuah pertanyaan yang kebenarannya harus diungkap. Peranan ilmu pengetahuan penting bagi manusia, karena manusia tidak dapat menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya tentu saja ini sangat buruk sekali, mengapa? karena setiap manusia tidak dapat berkembang tanpa masalah, tanpa ilmu manusia tidak dapat melakukan penelitian-penelitian yang dapat menghasilkan suasana baru bagi khazanah ilmu di Dunia.
Dalam penelitian, pada hakikatnya merupakan sebuah proses “bertanya” kemudian “menjawab”. Proses tanya jawab tersebut dilakukan secara deduksi dan induksi, sistematis , terkendali, empiris, dan kritis. Untuk mendapatkan jawaban juga dapat menjelaskan dari sebuah masalah-masalah yang ada, maka harus melalui proses penelitian yang mampu memberikan penjelasan terhadap peristiwa-peristiwa empiris yang dipertanyakan. Masalah-masalah ini berhubsungan dengan ilmu yang ada dalam dunia abstrak. Tetapi, jika menyusun suatu teori yang sifatnya abstrak, maka teori itu harus berhubungan dengan realita di mana teori itu digunakan. Dengan kata lain, teori itu harus disusun secara logis, rasional dan juga harus aktual. Seperti yang telah dinyatakan oleh Babbie, yaitu : “Science is sometimes characterized as logico-empirical. This ugly term carries an important massage: to pillars of science are (1) logic or rationality an (2) the observation of empirical facts”. Menurut Babbie, bahwa ilmu pengetahuan terdiri atas dua pilar yaitu logis atau rasional dan empiris. Kedua pilar ilmu pengetahuan ini saling berhubungan, karena jika berhadapan dengan teori ilmu pengetahuan, maka akan memikirkan antisipasi pada kenyataan-kenyataan empiris di lapangan. Begitu juga sebaliknya, apabila berhadapan dengan peristiwa-peristiwa factual yang ada dalam dunia empiris, maka selain memikirkan masalah-masalah praktis, tetapi akan mengarah pada teori-teori yang pernah kita pelajari. Karena cara berpikir manusia kebanyakan adalah teoritis-induktif, maka cara berpikir seperti itu akan menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara teori dan peristiwa-peristiwa empiris. Teori dengan cara berpikir deduktif mengarah pada kenyataan empiris, dan kenyataan empiris dengan cara berpikir induktif akan mengarah pada teori. Hubungan timbal balik antara teori dan praktek, antara berpikir deduksi dan induksi, tidak boleh terputus tetapi harus selalu dikembangkan. Dengan adanya penelitian, maka akan ada proses berpikir deduktif dan berpikir induktif, yang kedua saling berhubungan.
B. Tahap-tahap dalam Proses Penelitian
Dalam proses penelitian cara berpikir deduksi dan cara berpikir induksi dilakukan secara sistematis, ketat, analitis dan terkendali. Tahap-tahap tersebut harus dilakukan secara runtut, agar mudah dalam mengerjakannya. Selain itu, karena tahap-tahap yang sebelumnya merupakan syarat bagi tahap tersebut. Konsep-konsep yang merupakan sasaran penelitian diuraikan secara operasional atas indikator-indikator empiris. Dengan indikator-indikator tersebut, konsep yang abstrak itu terhubungkan dengan kenyataan-kenyataan empiris. Penelitian selalu dikendalikan oleh hipotesis-hipotesis sebagai jawaban sementara atas pertanyaan penelitian. Tahap-tahap yang dilakukan dalam proses penelitian itu antara lain :
1. Konseptualisasi Masalah
Sesuai dengan cirri ilmu yang demikian, maka proses penelitian ilmiah diawali dengan merumuskan pertanyaan penelitian atau apa yang disebut konseptualisasi masalah. Ada dua hal yang berhubungan dengan konseptualisasi ini, yaitu masalah (substansi) yang dipetanyakan dan pertanyaan dasar serta cara menjawab pertanyaan itu (metodologi). Tahap ini merupakan tahap awal, yang menentukan untuk melanjutkan pada tahap-tahap berikutnya. Jika terdapat kekeliruan pada tahap ini, maka seluruh tahap berikutnya akan mengalami kekeliruan. Oleh karena itu, tahap ini harus dilakukan dengan teliti.
2. Tujuan dan Hipotesis
Pada waktu kita mengajukan pertanyaan penelitian, maka sebenarnya pada waktu situ juga jawabannya sudah ada dalam pikiran kita. Jawaban tersebut memang masih diragukan, namun dapat dipakai sebagai jawaban sementara yang mengarahkan kita untuk mencari jawaban yang sebenarnya. Pernyataan yang dirumuskan sebagai jawaban (sementara) terhadap pertanyaan itu disebut hipotesisi penelitian. Oleh karena itu, tahap selanjutnya setelah konseptualisasi masalah adalah perumusan tujuan dan hipotesis. Tujuan dan hipotesis inilah yang mengendalikan semua kegiatan penelitian.
3. Kerangka Dasar Penelitian
Masalah-masalah yang dihadapi oleh peneliti memerlukan suatu penjelasan yang disusun dalam kerangka teoritis tertentu. Dalam tahap kerangka dasar penelitian ini menggunakan konsep-konsep yang saling berhubungan untuk membentuk beberapa proposisi. Hubungan-hubungan yang telah terbentuk tersebut akan membentuk beberapa proposisi. Kemudian disusun dalam kerangka dasar, sehingga akan memperoleh penjelasan secara teoritis terhadap masalah penelitian. Konsep-konsep yang disusun dalam kerangka dasar penelitian itu adalah konsep-konsep yang tercakup dalam hipotesis-hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya. Karena itu, kerangka dasar tersebut disebut juga kerangka hipotesis. Dengan dirumuskannya secara operasional konsep-konsep dalam kerangka hipotesis itu, maka diperoleh kejelasan tentang data apa yang akan dikumpulkan untuk membuktikan hipotesis penelitian.
4. Penarikan Sampel
Arikunto (1998:117) mengatakan bahwa: “Sampel adalah bagian dari populasi (sebagian atau wakil populasi yang diteliti). Sampel penelitian adalah sebagian dari populasi yang diambil sebagai sumber data dan dapat mewakili seluruh populasi. Sedangkan Sugiyono (1997: 57) memberikan pengertian bahwa: “Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi”. Dari kedua pakar di atas dapat disimpulkan bahwa sampel adalah bagian dari populasi yang mempunyai cirri-ciri atau keadaan tertentu yang akan diteliti. Penarikan sampel dilakukan karena data dan informasi yang akan diproses tidak akan semuanya diambil atau diproses, selain itu tidak semua orang atau benda akan diteliti melainkan cukup dengan menggunakan sampel yang mewakilinya. Dalam tahap ini untuk penarikan sampelnya harus reprensentatif disamping itu peneliti wajib mengerti tentang besar ukuran sampel, teknik sampling dan karakteristik populasi dalam sampel. Sampel ditentukan oleh peneliti berdasarkan pertimbangan masalah, tujuan, hipotesis, metode dan instrument penelitian, di samping waktu yang dibutuhkan, tenaga yang dikerahkan dan biaya yang dikeluarkan. Ada beberapa jenis sampel antara lain: (a) Sampel rambang (random sampling) : setiap populasi memiliki kesempatan yang sama menjadi sampel; (b) Sampel rumpun (cluster sampling) : secara kelompok sampel dipilih; (c) Sampel bertingkat (stratified sampling) : sampel rumpun yang telah ditentukan. (d) Sampel rambang proporsional (proportional random sampling); (e) sampel representatif : sampel yang paling mencerminkan populasi.
Penarikan sampel ini berguna untuk menguji hipotesis agar data yang dibutuhkan dapat dikumpulkan lebih lengkap. Dalam mengumpulkannya harus jelas tentang dari mana data tersebut dikumpulkan dan strategi apakah yang akan digunakan untuk mengumpulkan data tersebut. Tahap penarika sampel ini disebut juga perumusan populasi dan sampel penelitian. hasil dari proses penarikan sampel ini adalah suatu daftar responden sebagai sampel dari populasi penelitian.
5. Konstruksi Instrumen
Cara penarikan sampel adalah dengan mengumpulkan dahulu data yang telah ditetapkan, tetapi dalam proses pengumpulannya menggunakan metode pengumpulan data dan alat-alat yang digunakan untuk mengumpulkannya. Alat-alat yang digunakan untuk mengumpulkan data ini disebut konstruksi instrument. Dalam mengumpulkan data penelitian tersebut disusun menggunakan metode yang sesuai dan berhubungan dengan proses penelitian.
Instrument penelitian merupakan alat untuk memperoleh data. Alat ini harus dipilih sesuai dengan jenis data yang diinginkan. Instrument disini sebagai alat pengumpul data yang pada hakikatnya adalah untuk mengukur variabel penelitian.
6. Pengumpulan Data
Merupakan proses pengumpulan berbagai data dan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian. Proses pengumpulan data ini dilakukan mengacu pada prosedur penggalian data yang telah dirumuskan dalam desain penelitian. Adapun data berdasarkan jenisnya dapat dibedakan atas data primer, data sekunder, data kuantitatif dan data kualitatif.
Pengumpulan data dilakukan dalam rangka pembuktian hipotesis. Oleh karena itu harus ditentukan metode untuk pengumpulan data yang sesuai dengan setiap variable, supaya diperoleh informasi yang valid dan dapat dipercaya. Pengumpulan data dilakukan terhadap responden yang menjadi sampel penelitian.

7. Pengolahan Data
Data yang telah dikumpulkan masih berupa data mentah, sehingga perlu diolah supaya dapat dianalisis. Pengolahan ini dilakukan dalam 3 tahap, yaitu editing (penyuntingan), coding (pemberian kode), dan master sheet (table induk). Tahap editing (penyuntingan), yaitu tahap pengolahan data dengan cara memilih data-data apa saja yang sesuai dengan penelitian, data tersebut dipisahkan dan dikumpulkan. Setelah dikumpulkan masuk ke dalam tahap coding (pemberian kode) yaitu pengolahan data dengan memberikan kode atau tanda pada data-data penelitian, pemberian kode ini sangat berguna untuk memudahkan kita dalam penelitian, apabila kita lupa atau ada hal yang harus di edit kembali maka kita akan mudah mendapatkannya karena telah mengetahui kode yang telah ditetapkan. Dan terakhir pengolahan data dengan tahap master sheet (table induk). Yaitu tahap menyusun data-data yang telah diberikan kode untuk dimasukkan ke dalam table induk, ini juga dapat memudahkan kita dalam melihat kembali hasil dari pengolahan data yang telah selesai.
8. Analisis Pendahuluan
Dalam tahap pengujian hipotesis data yang telah diolah akan dianalisis dengan cara-cara tertentu. Analisis data tersebut menggunakan dua tahap, yaitu analisis pendahuluan dan analisis lanjut. Analisis pendahuluan bersifat deskriptif dan terbatas pada data sampel. Dalam analisis pendahuluan ini ialah untuk mendeskripsikan setiap variabel pada sampel penelitian kemudian untuk menentukan alat analisis yang akan dipakai pada analisis selanjutnya.
9. Analisis Lanjut
Telah disebutkan di atas bahwa analisis data menggunakan dua tahap, yaitu analisis pendahuluan dan analisis lanjut. Setelah analisis pendahuluan kemudian masuk kedalam tahap berikutnya, yaitu analisis lanjut. Analisis ini disebut juga analisis inferensial yang lebih mengarah pada pengujian hipotesis. Alat-alat analisis yang dipakai untuk ini disesuaikan dengan hipotesis opersional yang telah dirumuskan sebelumnya. Jika hipotesis yang diuji tersebut hanya mencakup satu variabel, maka dipergunakan Uni Variate Analysis. Kalau hipotesisnya mencakup dua variabel, maka dipergunakan Bivariate Analysis. Dan jika hipotesis tersebut mencakup lebih dari dua variabel, maka dipergunakan Multivariate Analysis.
10. Interpretasi
Interpretasi adalah pengujian hasil penelitian. Hasil penelitian diuji kebenarannya. Jika hipotesis tidak terbukti dapat dicari kesalahannya melalui :
a. Landasan teori (kadaluarsa, kurang valid)
b. Sampel (tidak representatif)
c. Alat pengambilan data (tidak reliable dan valid)
d. Rancangan penelitian kurang tepat
e. Perhitungan yang salah
f. Variabel-variabel luaran (Extraneous Variables) terlalu besar.
Hasil analisa data kemudian diinterpretasikan sehingga data-data tersebut memberikan informasi yang bermanfaat bagi peneliti. Pada jenis penelitian eksplanatory, tahap interpretasi data adalah tahap mengkaitkan hubungan antara berbagai variabel penelitian dan untuk menjawab apakah hipotesa kerja diterima ataukah ditolak. Sedangkan pada penelitian deskriptif, interpretasi ini adalah untuk menjelaskan fenomena penelitian secara mendalam berdasarkan data dan informasi yang tersedia.

Biasanya proses penelitian ini disusun dengan menggunakan gambar yang terbagi dalam dua tingkat. Tingkat pertama dari tahap (a) sampai (f), tingkat ini berjalan dalam proses deduksi yang bercirikan diferensiasi. Sedangkan tingkat kedua dari tahap (f) sampai (a), tingkat ini berjalan dengan proses induksi yang bercirikan integrasi. Proses deduksi merupakan proses yang berjalan dari teori-teori dan konseep-konsep yang sangat abstrak menuju pada evidensi-evidensi empiris yang konkret dengan cirri diferensiasi. Sedangkan prose induksi, dimulai dari kenyataan-kenyataan konkret dengan seperangkat data sampai pada konsep-konsep yang abstrak melalui penyederhanaan-penyederhanaan dengan cirri integrasi.

C. Komponen Informasi dan Komponen Metodologi
Dalam penelitian harus melalui tahap-tahap proses penelitian secara runtut, sehingga data yang dihasilkan dapat diungkap kebenarannya. Sepuluh tahap-tahap di atas bersifat hasil temuan dan tahap yang bersifat cara atau proses menemukan. Menurut Wallace bahwa kedua jenis sifat dari tahap-tahap tersebut dibedakan menjadi dua macam komponen. Komponen yang pertama yaitu komponen informasi atau yang disebut dengan sifat hasil temuan. Sedangkan komponen kedua disebut komponen metodologi atau yang disebut juga dengan sifat cara menemukannya. Wallace mengemukakan bahwa komponen informasi terdiri atas 5 komponen dan komponen metodologi yang terdiri atas 6 komponen.
Lima komponen informasi tersebut antara lain :
1. Teori
2. Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap penelitian yang kebenarannya masih terus diuji secara empiris.
Pengertian hipotesis terbagi tiga, yaitu : (a) secara teknis, artinya bahwa hipotesis adalah pernyataan mengenai populasi yang akan diuji kebenarannya masih harus dijui secara empiris. (b) secara statistic, artinya bahwa pernyataan mengenai keadaan parameter yang akan diuji melalui statistic sampel. (c) secara emplisit, artinya bahwa hipotesis disebut juga prediksi. Selain itu hipotesis terbagi dua, yaitu hipotesis tentang hubungan atau korelasi dan hipotesis tentang perbedaan.
3. Pengamatan
Artinya bahwa informasi akan didapatkan melalui pengamatan terlebih dahulu, sehingga tidak semua data akan diambil tetapi data yang sesuai dengan penelitian.
4. Generalisasi Empiris
5. Penerimaan atau Penolakan Hipotesis
Artinya bahwa hipotesis yang di uji bisa diterima kebenarannya, tetapi bisa juga ditolak kebenarannya. Hal ini disebabkan apabila hipotesis tersebut ada kekurangan dalam pengumpulan data-datanya ataupun terdapat data yang tidak valid. Ini dapat dilihat melalui Landasan teori (kadaluarsa, kurang valid) ; Sampel (tidak representatif) ; Alat pengambilan data (tidak reliable dan valid) ; Rancangan penelitian kurang tepat ; Perhitungan yang salah. Hipotesis bukan jawaban final penelitian, akan tetapi merupakan jawaban sementara tentang hubungan antara gejala-gejala yang menjadi permasalahan dalam proses penelitian.
Sedangkan enam komponen metodologi menurut Wallace antara lain :
1. Deduksi logis.
2. Interpretasi hipotesis, instrumentasi, skala pengukuran, sampling.
3. Penyederhanaan (dengan statistik, estimasi parameter).
4. Pembentukan teori dan proposisi.
5. Pengujian hipotesis.
6. Inferensial logis.

Kita dapat melakukan penelitian dengan baik dan benar apabila kita dapat mengikuti langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan dalam penelitian dengan runtut dan runut. Sehingga apabila terdapat kekeliruan atau kekurangan dapat dengan mudah diperbaiki karena tahap-tahap yang dilakukan telah berurutan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar